29 May 2006

Gempa di Jogja versi Milisdad (1)

Seperti biasa ritual pagi, setelah sholat subuh saya menyempatkan nonton berita. Nonton TV sambil tiduran. Tiba-tiba terasa goyangan, saya kira cuma gempa kecil karena merapi tapi kok terasa semakin kecang dan barang-barang bergoyang.
Tanpa berfikir panjang saya langsung ambil kunci dan jalan merayap menuju pintu keluar sambil membuka kunci. Cukup susah membuka pintu dengan kunci yang pipih dengan getaran yang semakin besar. Akhir pintu bisa terbuka sambil menenangkan diri sambil mengucap Allah Akbar.
Beberapa menit kemudian gempa sudah mereda saya langsung ambil HP dari kamar dan langsung menghubungi keluarga di Wonosobo, bahwa ada gempa di Jogja dan kondisi saya baik-baik saja. Kepanikan di sekitar Tambak Bayan cukup ramai semua penghuni kost langsung keluar semua.
Saat kondisi sudah tenang saya meminjam motor Ryan (Presenter JogjaNyasar di Jogja TV__red) untuk melakukan checking ke bandara. Karena tanggal 29 Mei 2006 saya harus ke Jakarta naik Batavia Air. Listrik pasca gempa dipadamkan jadi lumayan bikin kemacetan kecil di pertigaan Maguwo.
Ke bandara saya tidak lupa membawa kamera digital barang kali ada sesuatu yang harus didokumentasinkan. Sempet berhenti di pertigaan Maguwo untuk mengambil reruntuhan bengkel Yamaha. Setelah itu langsung di laju ke Bandara.
Sesampainya dibandara saya langsung nanya ke petugas parkir "Ada apa too pak, kok rame banget??" Tukang parkir menjawab "Ada yang luka-luka karena bandara ada yang ambruk". Saya tidak percaya karena kost saya baik-baik aja.
Saya jalan ternyata memang ada kerusakan beberapa di tembok dan atap bandara. Petugas bandara tidak henti menghimbau para penumpang untuk menjauh dari gedung bandara. Tapi yang namanya panik ingin mengetahui nasib penerbangan mereka dan keluarga yang terluka terkena reruntuhan tetap aja membuat suasana jadi cukup ramai. Saya sendiri mengalami kebingungan karena maskapai yang akan saya naiki tidak ada satu orang pun melayani kami. Pada awalnya semua penerbangan di batalkan. Namun selang beberapa menit penerbangan bisa dilanjutkan namun hanya beberapa, antara lain Garuda, Merpati, dan Lion Air.
Para petugas bandara bertugas sangat baik dan memberikan informasi yang uptodate. Saat ada korban keluar dari bandara untuk diselamatkan petugas bandara meminta yang mempunyai kendaraan untuk membantu namun tidak ada satu pun yang mau membantu. Akhirnya ambulans dari bandara muncul juga.
Selang beberapa menit mobil operasional bandara akhirnya diaktifkan untuk mengangkut para korban di bandara. Karena didalam bandara cukup parah beberapa softdrink yang berserakan di dalam bandara dibagikan dengan cuma-cuma kepada para pengunjung bandara. Saya sempet dapat 1 kaleng minuman :).
Petugas dapat info dari BMG akan ada gempa susulan para penumpang harap keluar dari gedung dan areal bandara.
Setelah saya keluar dari bandara saya langsung pulang. Namun menyempatkan mampir ke kampus ketemu sama temen-temen panitia Short Course. Saya sempat berjabat tangan tiba-tiba dari arah selatan ada teriakan "aiiirr, aiirr, aiirrr.........." spontan saya lari etrbirit-birit sekitar 100m, tidak sadar bahwa saya meninggal motor di kampus. Kemudaian saya kembali berlari ngambil motor dan ngajak teman tapi gaka da yg mau. Motor saya laju kecang menuju kost untuk menyelamatkan barang-barang berharga saya serta jemput Ryan.
Cukup panik dalam menghadapi isu tsunami. Bensin motor sudah limit, akhirnya ngantri di SPBU Barabarsari sekitar 30-45 menit :(. Setelah bensin terisi penuh, saya ngecek kost adik saya di seturan, Alhamdulillah aman cuma anak2 dah pada kabur. Untung adik saya ada di Rumah Wonosobo.
Dikarenakan listrik juga masih padam maka saya bertekad untuk jalan-jalan saja dan mencari kantor Batavia Air. Berputar-putar gak ketemu akhir kami mencoba mencari asal isu tsunami. Awal nya air sudah nyampe di Timoho, maka saya ke Timoho. Ternyata yang saya dapatkan hanya jalan yang kering-kerontang. Dasar isu yang menyesatkan :(.
Jalan-jalan capek juga akhir nya saya cari makan di daerah Glagah Sari. Banyak yang tutup. Namun Ryan punya langganan Warteg mampirlah kami kesana. Tutup juga. Tapi tiba-tiba terdengar panggilan "mampir.....". Sambil tarik nafas dan istirahat mampirlah kami di Warteg tersebut. Di Warteg tersebut kami ditawari makanan gratis, sebagai wujud sukuran keluarga Warteg tersebut selamat tidak ada yang terluka walaupun warungnya mengalami kerusakan.
Ternyata masih ada orang baik disaat Gempa......... Matur nuwun mas.....
Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke rumah Haqy untuk menengok keluarga nya. Haqy cukup panik karena saya sempat ngerjain dikit. Haqy kebetulan posisinya di Jakarta.
Setelah dari rumah Haqy saya check ke bandara lagi untuk memastikan tiket pesawat saya. Sesampai nya di bandara jalan sudah diblok oleh petuga PT KAI. Cari-cari info akhir tiket pesawat saya putuskan untuk di-refund saja.
Cape' dan lelah namun saya harus mempunyai kepastian transportasi untuk pulang ke Jakarta. Selain itu saya tetap kontak dengan keluarga. Walaupun Simpati saya tidak bisa untuk melakukkan komunikasi keluar-masuk. Saya menggunakan Fren..........
Saya putuskan untuk ke Stasiun Tugu untuk mencari info kereta. Ternyata kereta sudah habis, tapi saya tetap ngeyel untuk dapat tiket untuk kapan pun waktunya dan berapun harganya. Akhir nya dapat menggunakan Taksaka Pagi Jam 09.30. Sebenarnya tiket tersebut atas nama orang lain, saya membeli di loket bukan di calo. Setelah mendapat kepastian transportasi saya pulang dan istirahat di kost.

No comments:

Post a Comment

Disqus for Dedy selalu Milisdad