19 March 2012

Improvisasi dan Kreatifitas Warung Burjo

Di Jogja rata-rata menyebut Burjo, sebuah warung yang menjual Indomie goreng/rebus dan bubur kacang ijo (Burjo). Kalau di Jakarta sepengamatan saya disebut Warung Kopi. Tapi intinya berjualan dengan kategori yang sama yaitu jualan mie instan dan bubur kacang ijo. Pertama kali saya datang ke Jogja, warung burjo memang hanya jualan Indomie dan bubur kacang ijo. Biasanya yang jualan berasal dari Kuningan Jawa Barat.

Waktu terus berjalan, setiap orang dituntut untuk lebih kreatif dan memberikan manfaat yang besar. Artinya kita harus mencoba untuk ke luar kotak sejenak. Begitulah yang dilakukan oleg penjual Burjo di Jogja. Awalnya ada semacam afiliasi, sistem holding, sistem kerjasama dengan stakeholder dalam hal ini Indofood, dan sebagainya. Baru-baru ini saya melihat sudah mulai banyak warung Burjo sudah bukan warung Burjo seperti 10 tahun yang lalu. Saya sebut sudah menjadi warung makan. Yaa selayaknya warung makan, ada beberapa variasi menu termasuk sayur dan lauk pauk.

Warung Burjo dekat rumah tidak hanya menjual Indomie dan burjo namun menjual Nasi Telor, Nasi Goreng, Nasi Magelangan, Nasi Sarden, Nasi Ayam, dan lain-lain. 5-6 tahun yang lalu saya memang sudah menjumpai beberapa warung Burjo sudah mulai menjual menu selain Indomie dan burjo. Waktu itu saya mencoba Nasi Bandeng dan Nasi Telor. Sekarang sepertinya hampir semua warung Burjo sudah menyediakan banyak menu. Warung Burjo satu dengan yang lain sudah tidak sama menunya.

Masalah harga saya pikir lebih murah di Burjo, misal saya beli Nasi Telor dengan harga Rp. 4000 sudah termasuk orek tempe, mie, kuah, dan sambal. Cukuplah....Warung Burjo yang lain modelnya berbeda, sayur boleh ambil sendiri bebas, ada sayur kacang panjang, ada kikil, sambal, dan lain-lain. Bahkan saya melihat ayam goreng. Lagi-lagi masalah harga masih sangat terjangkau. Uang Rp. 10.000 masih ada kembalian.

Bagaimana warung Burjo sekitar anda?


Referensi :

No comments:

Post a Comment

Disqus for Dedy selalu Milisdad