Skip to main content

[kuliner] Mie Ongklok Japuto

Mie Ongklok sebagai makanan khas Wonosobo selalu diburu oleh orang yang berasal dari Wonosobo di daerah perantauan atau ketika pulang kampung. Informasi yang saya tahu di Jogja ada beberapa yang sudah mulai berjualan makanan khas Wonosobo ini. Diantaranya warung Niboen di daerah Pogung, daerah Jagalan dekat sama Hotel Putra Sabar, Jalan Magelang, dan diduga di daerah Purwomartani juga ada. Mungkin masih banyak yang sudah mulai jualan Mie Ongklok di Jogja.

Yang baru-baru ini saya coba adalah Mie Ongklok Japuto yang terletak di Jalan Magelang. Buka dari jam 18.00 sampai jam 23.00. Pertama kali saya kesana, tidak kalah ramainya dengan Mie Ongklok yang ada di Wonosobo. Harga per porsi pun sama yaitu Rp. 5000. Tidak beda Mie Ongklok yang dijual di Wonosobo, dijual juga sate sapi dan tempe kemul. Berhubung antrian yang cukup banyak baru sekitar 30 menit saya bisa menyatap Mie Ongklok Japuto.

Ketika lihat presentasinya (bergaya Master Chef) cukup berbeda dan ketika saya rasa juga agak berbeda dari Mie Ongklok yang biasa saya makan di Wonosobo. Dalam semangkuk Mie Ongklok yang jelas membuat beda adalah tidak adanya daun cai yang digantikan dengan daun bawang. Tapi secara keseluruhan presentasi atau penyajian tidak banyak berubah terutama kuah kentalnya. Ada nilai tambah dari Mie Ongklok Japuto dibanding yang ada di Wonosono yaitu adanya tethelan sapi.

Tidak lengkap makan Mie Ongklok tanpa sate sapi atau tempe kemul. Sate sapinya enak, tempe kemulnya lagi-lagi secara presentasi tidak sama hanya rasa tempenya enak. Tempe kemulnya juga tidak ada daun cai. Kalau dibandingkan dengan yang biasa saya makan di Wonosobo memang berbeda rasanya baik di Warung Niboen atau Japuto. Walaupun saya bukan tukang icip makan yang hebat seperti para juri Master Chef tapi rasa Mie Ongklok di Jogja belum sama rasanya. Mungkin inilah Mie Ongklok Wonosobo yang memang disesuaikan dengan lidah orang Jogja. Bagi Anda yang penasaran silakan untuk mencoba. Daftar harga dapat  dilihat dibawah ini.

Comments

  1. mantap... tambah lagi 1 menu kuliner... tapi di buku menu mienya murah sekali cuman 5.000

    ReplyDelete
    Replies
    1. di Wonosono per porsinya juga 5000. sepertinya di Jogja segitu standar.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kesalahan Dispenser

Pada umumnya beberapa orang menyebut dispenser mengikuti istilah pada KBBI yaitu peranti elektronik yg secara otomatis dapat memanaskan dan mendinginkan air yang siap diminum. Ternyata ada istilah lain menurut KBBI yaitu mesin penjual atau mesin penyaji. 27 Desember 2013 saya melihat Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dari Bank CIMB Niaga sepi dari antrian. Masuklah ke ruangan yang lebih besar dibanding ruang ATM lainnya. Berencana mengambil uang namun gagal, dicoba berulang-ulang ternyata masih gagal dengan pesan galat: Transaksi tidak dapat diproses karena kesalahan dispenser Pertama melihat pesan tersebut pasti merasa aneh, kok dispenser ngeluarin uang, air dong yang dikeluarkan . Termasuk saya yang merasa aneh dengan pesan galat tersebut. Merujuk KBBI saya masih merenungi arti dispenser yang digunakan Bank CIMB Niaga dalam mesin ATM.

Jalur Alternatif Wonosobo Jogja

Mudik tahun ini mencoba jalur baru. Pengamatan saya Wonosobo hanya mempunyai 2 tugu penyambutan yaitu di sebelah timur perbatasan dengan Temanggung dan diselatan perbatasan dengan Banjarnegara. Namun akses keluar masuk Wonosobo cukup banyak. Kali ini arus balik kami dimulai dari rumah Wonobungkah menuju Kaliwiro. Ternyata dari Kaliwiro ada jalur yang baru selesai diperbaiki menuju Sapuran. Dari Sapuran ini bisa melalui jalur altenatif ke Magelang ataupun Jogja. Ada 2 jalur yang dapat dipilih dari Kaliwiro : Wonosobo - Kaliwiro - Kali Bawang - Sapuran - Slentho - Salaman - Muntilan - Sleman - Jogja Wonosobo - Kaliwiro - Winong Sari - Pasar Kertek - Sapuran - Slentho - Salaman - Muntilan - Sleman - Jogja Kami memilih jalur yang pertama. Jalannya sudah bagus walaupun ada kekurangannya yaitu sempit, naik turun, tikungan tajam, dan samping jurang. Jarang ditemukan aspal yang rusak, ada sedikit rusak namun tidak mengganggu perjalanan. Bagi yang terbiasa mabuk darat, mungkin bisa langsung

Menutup Rekening Bank Permata

Mulai tanggal 23 Desember 2008 saya sudah menutup rekening di Bank Permata . Saya menggunakan Bank Permata sebagai payroll dari PT Trikomsel Multimedia . Sejak saya pindah ke Jogja sudah tidak efektif rekening tersebut. Payroll saya pindah ke Bank Mandiri . Untung sudah mempunyai rekening Bank Mandiri sejak tahun 2001. Beberapa alasan saya menutup rekening Bank Permata : - Tidak lagi sebagai payroll lagi. - Tidak ada transaksi yang berarti lagi. - E-Banking-nya tidak bisa di buka di Firefox karena menggunakan ActiveX. Daripada tiap bulan saya terkena biaya administrasi akhir diputuskan untuk ditutup. Mungkin kalau masih bisa dibuka di Firefox saya bisa mempertimbangkan untuk menutupnya. Bank Permata yang masih 1 group dengan Astra tentunya masih menggunakan kebijakan yang berbasis Microsoft . Proses untuk menutup saya cukup mengambil uang yang disisakan sekitar Rp. 100.000. Saya membuka rekening di Bank Permata cabang pembantu Jln. Abdul Muis Jakarta Pusat. Menurut CS-nya untuk me